BENTUK LAHAN DENUDASIONAL PDF

Pendahuluan Verstappen telah mengklasifikasikan bentuklahan berdasarkan genesisnya menjadi 10 sepuluh macam bentuklahan asal proses, yaitu bentuklahan asal proses volkanik, bentuklahan proses structural, bentuklahan asal fluvial, bentuklahan asal proses solusional , bentuklahan asal proses denudasional, bentuklahan asal proses eolin, bentuklahan asal proses marine , bentuklahan asal glasial , bentuklahan asal organik , bentuklahan asal antropogenik. Proses-proses tersebut dapat berupa erosi dan gerakan massa batuan. Dasar Teori Denudasi berasal dari kata dasar nude yang berarti telanjang, sehingga denudasi berarti proses penelanjangan permukaan bumi. Bentuk lahan asal denudasional dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk lahan yang terjadi akibat proses-proses pelapukan, erosi, gerak masa batuan mass wating dan proses pengendapan yang terjadi karena agradasi atau degradasi Herlambang, Sudarno.

Author:Mikajind Mazulrajas
Country:Samoa
Language:English (Spanish)
Genre:Software
Published (Last):9 February 2008
Pages:86
PDF File Size:1.54 Mb
ePub File Size:4.23 Mb
ISBN:658-9-89163-392-4
Downloads:20838
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Basho



Latar Belakang Bumi kita ini bukanlah benda yang statis karena Permukaan bumi selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu sebagai akibat dari tenaga dan proses geomorfologi, baik yang berasal dari luar bumi eksogen bersifat degradasi dan agradasi maupun berasal dari dalam dalam bumi endogen mencakup diastrofisme dan vulkanisme. Dalam membicarakan perubahan muka bumi yang bersifat degradasi destruktif dan agradasi konstruktif , terlebih dahulu dikemukakan mengenai pengertian mengenai tenaga dan proses geomorfologi.

Tenaga geomorfologi merupakan kekuatan yang menyebabkan permukaan bumi mengalami perubahan. Sedangkan proses geomorfologi yang maksud adalah kelangsungan perubahan sebagai akibat dari tenaga geomorfologi. Bentuk lahan yang ada di permukaan bumi berdasarkan proses asalnya dibagi menjadi 9, salah satunya adalah Bentuk lahan asal denudasional. Bentuk lahan ini terjadi akibat pengaruh dari gaya eksogen. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, kami merumuskan masalah sebagai berikut : 1.

Apa yang dimaksud dengan Bentuk Lahan Asal Denudasional? Bagaimana ciri-ciri Bentuk Lahan Asal Denudasional? Apa Contoh bentuk Lahan Asal Denudasional? Apa dampak proses Bentuk Lahan Asal Denudasional? Bagaimana mengatasi dampak proses Bentuk Lahan Asal Denudasional? Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu: 1. Untuk mengetahui definisi dari bentuk lahan asal denudasional.

Untuk mengetahui ciri-ciri bentuk lahan asal denudasional. Untuk mengetahui Proses terbentuknya bentuk lahan asal denudasional 4. Untuk mengetahui Contoh bentuk lahan asal denudasional 5. Untuk mengetahui dampak proses bentuk lahan asal denudasional 6. Untuk mengetahui cara mengatasi dAmpak dari proses bentuk lahan denudasional. Definisi Bentuk Lahan Asal Denudasional Denudasi berasal dari kata dasar nude yang berarti telanjang, sehingga denudasi berarti proses penelanjangan permukaan bumi.

Bentuk lahan asal denudasional dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk lahan yang terjadi akibat proses-proses pelapukan, erosi, gerak masa batuan mass wating dan proses pengendapan yang terjadi karena agradasi atau degradasi Herlambang, Sudarno.

Proses degradasi cenderung menyebabkan penurunan permukaan bumi, sedangkan agradasi menyebabkan kenaikan permukaan bumi. Denudasi meliputi dua proses utama yaitu Pelapukan dan perpindahan material dari bagian lereng atas ke lereng bawah oleh proses erosi dan gerak massa batuan masswashting.

Pelapukan adalah proses berubahnya sifat fisik dan kimia batuan di permukaan dan atau dekat permukaan bumi tanpa di sertai perpindahan material. Pelapukan dapat dibagi manjadi pelpukan fisik, dan pelapukan biotic. Pelapukan fisik merupakan proses pecahnya batuan menjadi ukuran yang lebih kecil tanpa diikuti oleh perubahan komposisi kimia batuan.

Perubahan kimia merupakan proses berubahnya komposisi kimia batuan sehingga menghasilkan mineral sekunder. Factor pengontrol pelapukan adalah batuan induk, aktivitas organism, topografi, dan iklim. Didalam evolusi bentanglahan yang menghasilkan bentuklahan dedasuonal M. Davis mengemukakan adanya3 faktor yang mempengaruhi perkembangan bentuklahan struktur geologi, proses geomorfologi, waktu.

Dengan adanya factor tersebut maka dalam evolusinya, bentuklahan melewati beberapa stadium ; stadium muda, stadium dewasa, stadium tua. Akan tetapi pendapat m. Proses denudasi merupakan proses yang cenderung mengubah bentuk permukaan bumi yang disebut dengan proses penelanjangan. Proses yang utama adalah degradasi berupa pelapukan yang memproduksi regolit dan saprolit serta proses erosi, pengangkutan dan gerakan massa.

Proses ini lebih sering terjadi pada satuan perbukitan dengan material mudah lapuk dan tak berstruktur. Proses degradasi menyebabkan agradasi pada lerengkaki perbukitan menghasilkan endapan koluvial dengan material tercampur. Kadang proses denudasional terjadi pula pada perbukitan struktur dengan tingkat pelapukan tinggi, sehingga disebut satuan struktural denudasional. Proses denudasional sangat dipengaruhi oleh tipe material mudah lapuk , kemiringan lereng, curah hujan dan suhu udara serta sinar matahari, dan aliran-aliran yang relatif tidak kontinyu.

Umumnya bentuk lahan ini terdapat pada daerah dengan topografi perbukitan atau gunung dengan batuan yang lunak akibat proses pelapikan dan beriklim basah, sehingga bentuk strukturnya tidak nampak lagikarena adanya gerakan massa batuan. Pembagian bentuk lahan denudasional dapat dilakukan dengan lebih rinci dengan mempertimbangkan : batuan, proses gerak massa yang terjadi dan morfometri. Ciri-ciri Bentuk Lahan Asal Denudasional Ciri-ciri dari bentuk lahan yang asal terjadi secara denudasioanal, yaitu: 1.

Dapat dibedakan dengan jelas terhadap bentuk lain 4. Relief lokal, pola aliran dan kerapatan aliran menjadi dasar utama untuk merinci satuan bentuk lahan 5. Litologi menjadi dasar pembeda kedua untuk merinci satuan bentuk lahan.

Litologi terasosiasi dengan bukit, kerapatan aliran,dan tipe proses. Pelapukan Pelapukan weathering dari perkataan weather dalam bahasa Inggris yang berarti cuaca, sehingga pelapukan batuan adalah proses yang berhubungan dengan perubahan sifat fisis dan kimia batuan di permukaan bumi oleh pengaruh cuaca.

Secara umum, pelapukan diartikan sebagai proses hancurnya massa batuan oleh tenaga Eksogen, menurut Olliver pelapukan adalah proses penyesaian kimia, mineral dan sifat fisik batuan terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya. Akibat dari proses ini pada batuan terjadi perubahan warna, misalnya kuning-coklat pada bagian luar dari suatu bongkah batuan.

Meskipun proses pelapukan ini berlangsung lambat, karena telah berjalan dalam jangka waktu yang sangat lama maka di beberapa tempat telah terjadi pelapukan sangat tebal. Ada juga daerah-daerah yang hasil pelapukannya sangat tipis, bahkan tidak tampak sama sekali, hal ini terjadi sebagai akibat dari pemindahan hasil pelapukan pada tempat yang bersangkutan ke tempat lain.

Tanah yang kita kenal ini adalah merupakan hasil pelapukan batuan. Jenis batuan kandungan mineral, retakan, bidang pelapisan, patahan dan retakan. Batuan yang resisten lebih lambat terkena proses eksternal sehingga tidak mudah lapuk, sedangkan batuan yang tidak resisten sebaliknya.

Contoh : 1. Granit, resisten pada iklim basah tetapi tidak resisten pada iklim kering. Iklim, terutama tenperatur dan curah hujan sangat mempengaruhi pelapukan. Iklim kering, jenis pelapukannya fisis 2. Iklim basah, jenis pelapukannya kimia 3.

Vegetasi, atau tumbuh-tumbuhan mempunyai peran yang cukup besar terhadap proses pelapukan batuan. Hal ini dapat terjadi karena: 1.

Secara kimiawi tumbuh-tumbuhan melalui akarnya mengeluarkan zat-zat kimia yang dapat mempercepat proses pelapukan batuan.

Akar, batang, daun yang membusuk dapat pula membantu proses pelapukan, karena pada bagian tumbuhan yang membusuk akan mengeluarkan zat kimia yang mungkin dapat membantu menguraikan susunan kimia pada batuan. Oleh karena itu, jenis dan jumlah tumbuhan yang ada di suatu daerah sangat besar pengaruhnya terhadap pelapukan.

Sebenarnya antara tumbuh-tumbuhan dan proses pelapukan terdapat hubungan yang timbal balik. Topografi Topografi yang kemiringannya besar dan menghadap arah datangnya sinar matahari atau arah hujan, maka akan mempercepat proses pelapukan. Jenis-jenis pelapukan ada beberapa, yaitu : a. Pelapukan fisik mekanis , yaitu pelapukan yang disebabkan oleh perubahan volume batuan, dapat ditimbulkan oleh perubahan kondisi lingkungan berkurangnya tekanan, insolasi, hidrasi, akar tanaman, binatang, hujan dan petir , atau karena interupsi kedalam pori-pori atau patahan batuan b.

Pelapukan kimiawi, yaitu pelapukan yang ditimbulkan oleh reaksi kimia terhadap massa batuan. Air, oksigen dan gas asam arang mudah bereaksi dengan mineral, sehingga membentuk mineral baru yang menyebabkan batuan cepat pecah.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas pelapukan kimiawi : 1. Komposisi batuan Ada mineral yang mudah bereaksi dengan air, oksigen dana gas asam arang, ada juga yang sulit. Bagi mineral yang mudah bereaksi dengan air, oksigen dan gas asam arang akan cepat lapuk daripada mineral yang sulit bereaksi dengan air, oksigen dan asam arang. Iklim Daerah yang mempunyai iklim basah adan panas misalnya ilim hujan tropis akan mempercepat proses reaksi kimia, sehingga batuan menjadi cepat lapuk.

Ukuran batuan Makin kecil ukuran batuan makin intensif reaksi kimia pada batuan tersebut berarti makin cepat pelapukannya.

Vegetasi dan binatang Dalam hidupnya vegetai dan binatang menghasilkan asam-asam tertentu, oksigen dan gas asam arang sehingga mudah bereaksi dengan batuan. Artinya vegetasi dan binatang ikut mempercepat proses pelapukan batuan.

Pelapukan organik, yaitu pelapukan yang disebabkan oleh mahkluk hidup, seperti lumut. Pengaruh yang disebabkan oleh tumbuh tumbuhan ini dapat bersifat mekanik atau kimiawi. Pengaruh sifat mekanik yaitu berkembangnya akar tumbuh-tumbuhan di dalam tanah yang dapat merusak tanah disekitarnya. Pengaruh zat kimiawi yaitu berupa zat asam yang dikeluarkan oleh akar- akar serat makanan menghisap garam makanan. Zat asam ini merusak batuan sehingga garam-garaman mudah diserap oleh akar. Manusia juga berperan dalam pelapukan melalui aktifitas penebangan pohon, pembangunan maupun penambanga.

Gerakan massa batuan mass wasting yaitu perpindahan atau gerakan massa batuan atau tanah yang ada di lereng oleh pengaruh gaya berat atau gravitasi atau kejenuhan massa air.

Ada yang menganggap masswasting itu sebagai bagian dari pada erosi dan ada pula yang memisahkannya. Hal ini mudah difahami karena memang sukar untuk dipisahkan secara tegas, karena dalam erosi juga gaya berat batuan itu turut bekerja. Pada batuan yang mengandung air, gerakan massa batuan itu lebih lancar dari pada batuan yang kering. Perbedaannya ialah bahwa pada masswasting, air hanya berjumlah sedikit dan fungsinya bukan sebagai pengangkut, melalinkan hanya sekedar membantu memperlancar gerakan saja.

Sedang dalam erosi diperlukan adanya tenaga pengangkut. Faktor-faktor pengontrol mass wasting antara lain: 1. Kemiringan lereng, Makin besar sudut kemiringan lereng dari suatu bentuk lahan semakin besar peluang terjadinya Mass Wasting, karena gaya berat semakin berat pula. Relief lokal, Terutama yang mempunyai kemiringan lereng cukup besar, misal kubah, perbukitan mempunyai peluang yang besar untuk terjadinya Mass Wasting.

Ketebalan hancuran batuan debris diatas batuan dasar, Ketebalan hancuran batuan atau Debris diatas batuan dasar makin tebal hancuran batuan yang berada diatas batuan dasar, makin besar pula peluang untuk terjadinya Mass Wasting, karena permukaan yang labil makin besar pula. Orientasi bidang lemah dalam batuan, Pada umumnya Mass wasting akan mengikuti alur bidang lemah dalam batuan, karena orientasi bidang lemah tersebut akan lapuk lebih dahulu kemudian materi yang lapuk akan bergerak.

Iklim, Kondisi iklim disuatu daerah akan mempengaruhi cepat atau lambatnya Mass wasting. Vegetasi, Daerah yang tertutup oleh vegetasi atau tumbuh-tumbuhan peluang untuk terjadinya Mass Wasting kecil, karena vegetasi dapat menahan laju gerakan massa batuan di permukaan. Gempa bumi, Daerah yang sering mngalami gempa bumi cenderung labil, sehingga peluang terjadinya Mass wasting besar.

Tambahan material pada bagian atas lereng Di daerah gunung api aktif sering terjadi penambahan material di bagian atas lereng akibat letusan sehingga akan memperbesar peluang terjadinya Mass wasting.

Klasifikasi mass wasting: a. Slow flowage gerakan lambat Gerakan lambat meliputi rayapan dan solifluksi.

1999 CHEVY SUBURBAN OWNERS MANUAL PDF

Bentuk Lahan Denudasional

Gaya tektonik ini bersifat konstruktif membangun , dan pada awalnya hampir semua bentuk lahan muka bumi ini dibentuk oleh control struktural. Pada awalnya struktural antiklin akan memberikan kenampakan cekung, dan structural horizontal nampak datar. Umumnya, suatu bentuk lahan structural masih dapat dikenali, jika penyebaran structural geologinya dapat dicerminkan dari penyebaran reliefnya. Akibat dari proses ini terjadi berbagai bentuk lahan yang secara umum disebut bentuk lahan vulkanik. Umumnya suatu bentuk lahan volkanik pada suatu wilayah kompleks gunung api lebih ditekankan pada aspek yang menyangkut aktifitas kegunungapian, seperti : kepundan, kerucut semburan, medan-medan lahar, dan sebagainya.

CONCORDANCIA ANALITICA GRECO ESPAOLA DEL NUEVO TESTAMENTO PDF

Macam Bentuk Lahan Menurut Verstappen

Bentuklahan asal proses volkanik V , merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat aktivitas gunung api. Contoh bentuklahan ini antara lain: kerucut gunungapi, madan lava, kawah, dan kaldera. Bentuklahan asal proses struktural S , merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat pengaruh kuat struktur geologis. Pegunungan lipatan, pegunungan patahan, perbukitan, dan kubah, merupakan contoh-contoh untuk bentuklahan asal struktural.

APPLIED STATICS AND STRENGTH OF MATERIALS LIMBRUNNER PDF

Bentangalam Denudasional

Bentuk lahan konstruksional misalnya gunung api, patahan, lipatan, dataran, plato, dome dan pegunungan kompleks. Sedangkan bentuk lahan distruksional meliputi bentuk lahan erosional, residual dan deposisional. Cabang yang mengkaji tentang bentuk lahan disebut Geomorfologi Statis. Bentuk muka bumi disebabkan oleh adanya tenaga Geologi. Poses ini dikaji dalam Geomorfologi Dinamik.

Related Articles